Bagaimana Epson Merencanakan Masa Depan

Nov 26, 2019Bisnis & Rumah, Printer & Pemindai

Daur Ulang Kertas menjadi lebih mudah, lebih cepat, lebih ramah lingkungan

Mesin DIY mengubah kertas bekas menjadi baru dalam hitungan menit

Ditengah meningkatnya kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan, inovasi dapat membantu perusahaan dalam menghemat biaya dan menjadi lebih ramah lingkungan

Daur ulang tradisional memerlukan penyortiran kertas bekas secara manual dan melibatkan biaya pengangkutan kertas ke pabrik dimana sejumlah besar air dan energi digunakan dalam proses daur ulang.

Sebuah ide: Cukup masukkan kertas bekas Anda ke dalam mesin dan presto! Anda memiliki kertas baru dalam 3 menit. Teknologi – mesin daur ulang kertas di rumah – sekarang ada dan akan segera tersedia dengan harga terjangkau bagi perkantoran dimana saja.

PaperLab, ditemukan oleh raksasa percetakan Epson, adalah suatu sistem pembuatan kertas dengan proses yang kering yang berukuran sebesar dua mesin ATM.

Mesin daur ulang kertas pertama di dunia untuk perkantoran ini adalah salah satu dari beberapa solusi yang akan membantu perusahaan agar menjadi lebih ramah lingkungan dan menghemat biaya (lihat cerita lainnya).

Alih-alih menempatkan karyawan untuk melakukan rumitnya menyortir tumpukan kertas bekas, yang malah akan dikumpulkan oleh perusahaan daur ulang dan diubah menjadi kertas baru dengan menggunakan berton-ton air pada proses daur ulang, kertas tersebut cukup dimasukkan ke dalam PaperLab.

Dalam hitungan menit, kertas baru dihasilkan. Prosesnya lebih cepat, tidak rumit dan lebih kering. Mesin yang bahkan tidak perlu air adalah nilai tambah “ramah lingkungan” yang besar. PaperLab digunakan di Jepang dan belum tersedia untuk pembelian langsung. Namun akan segera dipasarkan.

Direktur Regional Epson Singapura Munenori Ando, berkata: “Akhirnya kami sedang berupaya membuat PaperLab jauh lebih kecil dan lebih terjangkau.”

Ia memberikan pidato di acara B2B Ignite perdana Epson pada tanggal 4 Oktober, sebuah pameran solusi unik untuk membantu perusahaan dalam mengurangi jejak karbon mereka. Sekitar 100 bisnis diperkenalkan pada inovasi yang ramah lingkungan di acara tersebut yang berlangsung di Galeri Nasional Singapura.

Ketika dampak perubahan iklim menjadi bahaya yang jelas dan nyata, keberlanjutan yang cepat menjadi prioritas.

Bisnis-bisnis yang bertanggung jawab berusaha mengurangi konsumsi energi dan membantu mengurangi pemanasan global dengan membakar lebih sedikit bahan bakar dan menurunkan emisi karbon dioksida.

Produk yang lebih ramah lingkungan

Epson, didirikan di Jepang pada tahun 1942, tidak hanya ramah lingkungan di dalam tetapi juga berkomitmen menciptakan produk yang lebih ramah lingkungan bagi perusahan lain.

Perusahaan-perusahaan seperti EIS Business System akan mendapat manfaat dari solusi seperti PaperLab. Perusahaan percetakan, yang memiliki sekitar 70 karyawan, menggunakan banyak sekali kertas. Para karyawan dengan susah payah melepas staples dan menyortir kertas bekas ke dalam tumpukan berwarna dan hitam-putih sebelum diangkut oleh perusahaan daur ulang.

Namun biaya adalah penyebabnya. “Apabila penelitian dan pengembangan menciptakan Paperlab dengan versi yang lebih kecil dan lebih terjangkau, kami akan mendapatkannya,” kata direktur EIS Business System Justin Ho. “Di sebuah kantor, mesin penghancur kertas atau mesin fotokopi menjadi hal yang biasa.”

Produk yang lebih ramah lingkungan

Epson dikenal karena printer dan scanner rumahannya.

Namun raksasa elektronik Jepang ini semakin memfokuskan upaya penelitian dan pengembangannya pada inovasi solusi untuk bisnis, dari usaha kecil dan menengah (UKM)  sampai perusahaan multinasional.

Ruang UKM sangat penting bagi Epson karena UKM membentuk 99 persen pelanggan bisnis perusahaan di Singapura dan Asia Tenggara.

Produk-produk Epson untuk bisnis tidak hanya dapat menangani pekerjaan dalam volume besar, seperti pencetakan ribuan halaman sekaligus, tetapi juga ekonomis dan hemat energi.

Direktur regional Epson Singapura Munenori Ando berkata di B2B Ignite 2019: “Kami memiliki tujuan memberdayakan bisnis lokal dengan alat yang tepat untuk menangani langkah selanjutnya menuju bisnis yang berkelanjutan.”

Acara selama empat hari di Galeri Nasional memamerkan alat-alat ini, termasuk printer untuk kertas dan tekstil, dan teknologi visual seperti proyektor dan robot.

Lebih Efisien

Pada akhirnya, Epson ingin membantu bisnis beralih dari pencetakan laser dan analog menjadi pencetakan inkjet yang lebih ramah lingkungan dari proyektor lampu menjadi proyektor laser, dan untuk mengotomatiskan proses manual dalam produksi dengan robot industri.

B2B Ignite 2019 dihadiri oleh reseller Epson di Singapura serta pengguna akhir yang mencari solusi untuk kebutuhan kantor mereka sendiri.

Selain memperjuangkan produk-produk yang berkelanjutan untuk bisnis, Epson juga melakukan perannya sebagai warga korporat yang baik dengan mendukung masyarakat.

Perusahaan telah mengadopsi Lakeside Family Services selama lebih dari 3 tahun dengan karyawan Epson khusus untuk menyelenggarakan kegiatan bagi penerima bantuan amal dan program-program sponsor untuk pemuda. Epson juga telah memberikan peluang olahraga kepada pemuda Lakeside melalui klinik sepak bola.

Lebih Banyak Solusi Sedikit Dalih

Lebih Banyak Solusi Sedikit Dalih

Dorongan untuk menggunakan pemakaian energi dan air yang lebih sedikit mendapatkan momentum. Di antara inovasi yang diluncurkan pada B2B Ignite 2019, dua dapat membantu untuk:

Menghemat energi

Printer inkjet baru bebas panas milik Epson, Epson WorkForce Enterprise WFC20590, menggunakan energi 85 persen lebih sedikit dan memancarkan karbon dioksida 85 persen lebih sedikit daripada printer laser.

Printer ini juga memerlukan penggantian komponen kurang dari 59 persen, sehingga mengurangi limbah.

Membuat pencetakan tekstil lebih ramah lingkungan

Jajaran solusi tekstil digital Epson telah merevolusi metode pencemar kimiawi yang intensif air di industri tekstil saat ini.

Solusi ini membantu mengurangi pemakaian air sebesar 60 persen, dan pemakaian bahan kimia dan konsumsi daya sebesar 55 persen. Juga mempersingkat waktu produksi secara drastis dan memungkinkan kustomisasi desain dibandingkan metode pencetakan konvensional.

Perancang busana seperti John Herrera dari Filipina dan lainnya dari seluruh wilayah telah berkolaborasi dengan Epson untuk menghasilkan koleksi busananya, semuanya dicetak dengan solusi Epson.

Namun Perusahaan perlu lebih banyak waktu …

Mengadopsi solusi yang lebih ramah lingkungan masuk akal bagi perusahaan karena berdampak tagihan listrik dan air menjadi lebih rendah. Kini perusahaan semakin diamati perihal seberapa ramah lingkungannya mereka.

Namun beberapa perusahaan mengatakan bahwa mereka perlu waktu untuk dapat berkelanjutan. Pola pikir perlu diubah dan proses perlu diperbarui.

Manajer penjualan dan pemasaran senior Bits and Bytes Marketing Samuel Lee (kiri) mengatakan: “Tidak akan bisa langsung. Bahkan ketika membeli produk ramah lingkungan, perusahaan harus menunggu mesin lamanya berhenti bekerja sebelum menggantinya.”

“Namun yang penting adalah informasi dan kesadaran. Selama mereka tahu bahwa ada produk ramah lingkungan dengan harga terjangkau, mereka akan memilihnya ketika waktunya tepat.” Direktur EIS Business System Justin Ho berkata: “Ketika Anda berbicara tentang keberlanjutan, hal itu merupakan tantangan yang cukup besar bagi usaha kecil dan menengah. Perlu banyak usaha dan pelatihan, organisasi administratif dan logistik. Anda juga perlu paksaan karena manusia pada dasarnya suka malas.

“Juga tidak ada manfaat langsung. Pada akhirnya, kita hanya didorong oleh kepercayaan, bahwa kita melakukan bagian kita dalam membuat dunia menjadi tempat yang sedikit lebih baik.” Apa yang membuat upaya menyelamatkan Bumi oleh mereka menjadi lebih mudah adalah produk-produk yang ramah lingkungan.

Misalnya, perusahaan Tuan Ho menggunakan dua printer hemat energi Epson. Ketika pencetakan diestimasi menggunakan energi kantor sebesar 10 persen, dua printer, yang pemakaian energinya hanya sebagian kecil dari pemakaian energi printer laser biasa, merupakan langkah yang mudah terhadap keberlanjutan.

“Keberlanjutan telah menjadi salah satu tolok ukur yang digunakan untuk menilai kinerja bisnis suatu perusahaan,” kata direktur regional Epson Singapura Munenori Ando. “Orang-orang tidak lagi hanya melihat kinerja ekonomi, tetapi bagaimana suatu bisnis membantu melestarikan lingkungan dan seberapa baiknya sebagai warga negara.”

Sumber: The Straits Times © Singapore Press Holdings Limited. Dicetak ulang dengan izin.

Gabung dengan Media Sosial kami

Share This